‘Mencari dan Menyelamatkan’ Simulasi SAR di Gunung Salak

Perjalanan simulasi SAR (Search and Rescue) merupakan perjalanan keempat dan perjalanan terakhir dalam rangkaian kegiatan seleksi tahap pertama BKP (Badan Khusus Pelantikan Mapala UI) tahun 2011. Para Calon Anggota kali ini ditantang untuk mengaplikasikan semua kemampuan dasar alam bebas yang sebelumnya telah diberikan oleh para senior Mapala (mentor) pada setiap akhir pekan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa).

Tidak seperti biasanya dalam perjalanan kali ini kami sama sekali tidak diberikan informasi maupun rencana pergerakan yang akan dilakukan seperti halnya pada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Kondisi ini ternyata dimaksudkan untuk mendekati kenyataan sebuah kejadian SAR yang sesungguhnya terjadi, dimana suatu kejadian SAR akan terjadi secara tiba-tiba dan tanpa kita duga sebelumnya, sehingga sebagai seorang pecinta alam kami dituntut untuk selalu siap dalam menghadapi kondisi tersebut apabila benar-benar terjadi.

Rabu malam, 22 juni 2011 akhirnya diberitakan bahwa tiga orang pecinta alam telah menghilang di gunung Salak. Informasi yang didapat mengenai ketiga orang pecinta alam tersebut sangat terbatas, sejauh ini hanya diketahui bahwa mereka berencana untuk melakukan perjalanan selama tiga hari yaitu dari tanggal 19-21 juni 2011 dan berangkat dari desa Tenjolaya, Ciampea, Bogor. Berita yang masuk rabu malam tersebut membuat kami sibuk membuat estimasi jalur yang mungkin dilalui oleh korban dengan memperhatikan kontur dan titik-titik koordinat yang krusial atau biasa disebut dengan titik-titik kruks sehingga kami setidaknya memiliki gambaran jalur mana saja yang akan coba ditelusuri atau disisir untuk mencari kemungkinan korban berada disana. Setelah menentukan jalur yang dilalui oleh korban, kami kembali memastikan peralatan, perlengkapan, dan perbekalan agar sudah dipersiapkan dengan baik dan kemudian beristirahat sambil menunggu kemungkinan tambahan informasi dikeesokan harinya mengenai korban, apakah memang benar butuh dilakukan SAR atau tidak karena batas akan dilakukannya SAR apabila dalam 2 x 24 jam tidak ada informasi bahwa korban telah kembali dari perjalanannya, kondisi itu berarti kamis malam, 23 Juni 2011 adalah batasnya.

 

Ilustrasi : Briefing dilakukan sebelum melakukan penanganan SAR

Kamis, 23 juni 2011 kami bersiap untuk menuju Posko SAR di desa Tenjolaya, Ciampea, Bogor secara berkelompok karena pada perjalanan kali ini tim besar tidak menyewa kendaraan untuk keberangkatan seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya dan untuk mencapai kesana kami dihanya dibekali koordinat posko SAR, kemudian diberikan tenggat waktu hingga pukul lima sore dan harus sudah sampai koordinat tersebut. Menuju ke titik koordinat yang diberikan mentor secara berkelompok membuat perjalanan setiap kelompok tidaklah seragam, kabar baiknya semua kelompok tidak ada yang melewati batas jam yang telah ditentukan sebelumnya sehingga perjalanan untuk keberangkatan bisa dibilang cukup baik. Setelah mencapai posko, kami menuju basecamp di sebuah lapangan dekat posko SAR untuk persiapan bermalam disana.

Posko SAR, persiapan sebuah pergerakan pencarian dan penyelamatan

Posko SAR merupakan basis dari sebuah kegiatan SAR, dimana semua informasi yang berkaitan dengan korban akan masuk ke posko ini. Tugas dari pemimpin misi SAR atau biasa disebut dengan SMC (SAR Mission Coordinator) adalah untuk mengatur pergerakan dari pimpinan dilapangan atau biasa disebut OSC (On Scene Commander) agar misi SAR dapat berhasil dan korban (survival) dapat berhasil diselamatkan, biasanya dalam keadaan yang sebenarnya peran SMC dipegang oleh BASARNAS (Badan SAR Nasional).

Agar misi SAR ini dapat berhasil OSC tidak bekerja sendirian, OSC memiliki anak buah yang biasa disebut dengan SRU (Search and Rescue Unit) yang anggotanya cukup banyak sehingga setiap kelompok SRU biasanya dipimpin oleh ketua atau biasa disebut dengan KaSRU (Ketua SRU). Alur struktur ini sangat dibutuhkan dalam operasi SAR karena tanpa struktur yang jelas maka suatu operasi pencarian akan simpang siur dan tidak terpusat sehingga tujuan SAR sesungguhnya bisa menjadi berantakan dan tidak tercapai.

Alur Komunikasi eksternal misi SAR yang diterapkan

Kamis malam, 23 juni 2011 kami berkumpul di posko SAR dan diberitakan bahwa SMC mendapatkan tambahan informasi dari rekan korban yang tidak ikut perjalanan, dimana ternyata korban bertambah menjadi empat orang dan disebutkan juga beberapa peralatan dan perlengkapan korban yang kemungkinan dibawa dalam perjalanan tersebut. Kesalahan dari keempat korban adalah tidak membuat list peralatan dan perlengkapan yang dibawa selama perjalanan sehingga cukup menyulitkan dalam ‘mengendus’ jejak korban. karena barang-barang yang mungkin ditinggalkan di jalur bisa saja merupakan tanda bahwa mereka pernah berada di lokasi tersebut.

Jalur entry yang mungkin dilalui korban pun bertambah satu jalur sehingga ada empat kemungkinan jalur yang dilalui oleh korban, sedangkan kapasitas OSC saat itu hanya tiga kelompok sehingga jalur keempat dijadikan sebagai jalur cadangan yang terakhir disisir oleh tim SRU. Malam itu juga ditentukan siapa saja orang yang dipilih menjadi OSC dan KaSRU untuk memudahkan SMC dalam berkoordinasi. Setelah lama berkoordinasi tidak terasa hari sudah semakin larut yang berarti korban sudah 2 x 24 jam belum ada kabar kepulangan, sehingga malam itu dinyatakan operasi SAR dibuka dan keesokan paginya SRU sudah siap untuk memulai operasi. Berikut ini adalah rencana pergerakan secara umum untuk operasi SAR hari pertama (Jumat, 24 Juni 2011) :

  • Area pencarian korban meliputi wilayah dari warung curug luhur hingga puncak Salak dua
  • Perkiraan korban terakhir kali terlihat berada pada koordinat 88 6, 63 4
  • Entry point tim 1 / ayam berada pada koordinat 89 7, 62 0
  • Entry point tim 2 / banteng berada pada koordinat 89 6, 61 7
  • Entry point tim 3 / cicak berada pada koordinat 89 2, 62 4
  • Pencarian menggunakan Tracking mode sampai puncak Salak dua

Keterangan : Peta yang digunakan adalah peta AMS dengan acuan koordinat grid (UTM)

Rencana Jalur yang akan disisir oleh tim SRU

Tim Banteng, OSC jalur dua

Jumat, 24 Juni 2011 waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi di basecamp, kami bangun untuk mempersiapkan diri, sarapan, dan membongkar flysheet maupun tenda yang dipasang karena metode perjalanan SAR ini menggunakan sistem Alpina, yaitu perjalanan dengan membawa semua peralatan sehingga tidak ada satupun peralatan dan perlengkapan yang ditinggal di basecamp. Setelah semua peralatan dan perlengkapan dipacking kemudian kami melakukan orientasi medan (ormed) untuk mengetahui posisi koordinat basecamp di peta. Ormed yang dilakukan adalah resection, survey bentangan alam, dan bertanya dengan penduduk sekitar hingga akhirnya diketahui posisi basecamp berada pada koordinat 88 7, 62 9 dengan ketinggian kurang lebih lima ratus lima puluh meter dari permukaan laut. Setelah ormed selesai dilakukan kemudian kami menuju posko SAR untuk konfirmasi lebih lanjut mengenai pergerakan dan metode pencarian yang disarankan oleh SMC. Tepat pukul setengah sepuluh pagi, masing-masing OSC menuju ke jalur yang sudah ditentukan sebelumnya dan tim banteng yang merupakan OSC dua akan melalui jalur punggungan tengah.

Untuk mencapai titik entri punggungan, tim banteng dan tim cicak saling berbagi jalur yang sama sehingga selama perjalanan menuju titik entri, jalur tim banteng seperti masih tergabung dalam tim besar dan hanya pertigaan sungai lah yang dapat memisahkan jalur kedua tim tersebut, karena tim cicak akan menyisir punggungan sebelah barat sedangkan tim banteng akan menyisir punggungan sebelah timur dari sungai Ci Nangneng. Setelah menyebrangi pertigaan sungai pertama maka berpisahlah kedua tim tersebut, tim banteng yang dimotori oleh OSC dua mengalami kesulitan dalam menentukan jalur selanjutnya karena medan yang begitu terjal, sehingga menyulitkan untuk menemukan pertigaan sungai berikutnya yang merupakan patokan sebelum akhirnya menanjak ke punggungan timur sesuai rencana sebelumnya.

Menentukan lokasi di Peta dan Orientasi Medan

Sekali lagi penguasaan navigasi mutlak diperlukan dalam operasi ini karena tanpa kemampuan navigasi yang handal bisa saja para anggota SRU yang akhirnya kehilangan arah dan dicari oleh tim SAR lain. pada saat itu terjadi insiden dimana dua anggota tim banteng diberitakan telah salah jalur masuk ke tim cicak, kemungkinan disaat pisah jalur di pertigaan sungai yang pertama kedua anggota SRU tersebut malah mengikuti jalur tim cicak. Untung saja jarak masih belum terlalu jauh sehingga kedua anggota SRU tersebut bisa kembali ke jalur yang sebenarnya bersama tim banteng. Hari semakin siang dan tim banteng memutuskan untuk beristirahat makan siang sejenak menyiapkan tenaga sebelum melakukan survey untuk menentukan kemungkinan jalur yang akan dilewati. Setelah tenaga terisi kembali, tim banteng melanjutkan survey dan memutuskan untuk menaiki punggungan yang dilalui oleh tim cicak karena untuk turun secara langsung ke sungai sangat terjal sekali medannya. Menaiki punggungan juga tidak kalah sulitnya karena tanah yang gembur dan licin, bahkan untuk naik saja membutuhkan safety line dari webbing yang dibawa oleh anggota tim banteng dan mentor. Setelah melanjutkan perjalanan melewati pertigaan sungai kedua dan sempat salah jalur ke punggungan tim ayam akhirnya tim banteng memutuskan untuk bermalam di punggungan yang berada pada koordinat 89 6, 61 3 dengan membuat flyingcamp.

Ini Jalur Banteng…

Malam hari di flyingcamp diisi dengan evaluasi perjalanan sepanjang hari tadi dan mebuat rencana untuk keesokan harinya, rencana ini sangat diperlukan mengingat sudah banyak waktu terbuang sepanjang hari tadi untuk mencari punggungan jalur tim banteng yang sampai saat ini masih belum bisa dipastikan posisinya, rasa penasaran membuat seluruh anggota tim banteng bertanya-tanya apakah memang benar ini jalur banteng. Rencana untuk sabtu pagi adalah memastikan bahwa ini adalah punggungan yang benar karena punggungan sebelah timur merupakan jalur tim ayam sehingga akhirnya anggota SRU tim banteng dibagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan survey. Kelompok pertama bergerak ke punggungan, kelompok kedua menyisir sungai, dan kelompok ketiga menuju punggungan bulat di sebelah timur.

Waktu menunjukkan jam setengah tujuh di flyingcamp, ketiga kelompok sudah siap untuk melakukan survey seperti rencana malam sebelumnya. Ketiga kelompok tersebut pun mulai beraksi sedangkan anggota yang tidak melakukan survey sibuk mempersiapkan makanan dan membongkar flysheet untuk mengefisienkan waktu yang tersedia hari ini, maklum hari sebelumnya kami sudah banyak menghabiskan waktu untuk mencari punggungan utama yang harus disisir oleh tim banteng. Waktu survey pun dijatah selama satu jam dan setiap kelompok survey harus memberikan laporan kepada OSC mengenai hasilnya sebagai bahan pertimbangan bagi OSC untuk membuat keputusan. Satu jam telah berlalu dan ketiga kelompok survey kembali ke flyingcamp untuk memberikan laporan kepada OSC, akhirnya diputuskan bahwa punggungan yang saat ini didiami oleh tim banteng adalah jalur dua yang memang sudah seharusnya dilewati oleh tim banteng. Pagi itu semangat membumbung tinggi karena jalur tim banteng sudah terlihat dengan jelas dan selanjutnya mencari posisi entry point untuk mulai melakukan pencarian dengan metode open mode.

 

Penguasaan navigasi mutlak diperlukan untuk penanganan SAR yang taktis dan efektif dilapangan

Entry point jalur banteng akhirnya ditemukan kemudian tim banteng mulai berteriak-teriak memanggil nama korban untuk memastikan kemungkinan korban berada di sekitar jalur yang tim banteng telusuri. Disepanjang jalur beberapa kali tim banteng menemukan benda-benda yang dicurigai adalah milik korban (jackpot) akan tetapi setelah dikonfirmasi dengan SMC sebagian besar hasilnya negatif sehingga tidak bisa dijadikan acuan yang mengarahkan keberadaan posisi korban saat ini. Mendaki entry punggungan tim banteng membutuhkan tenaga yang ekstra karena dengan kemiringan kurang lebih lima puluh derajat cukup menghabiskan tenaga SRU tim banteng sehingga sebagian besar anggota tim banteng mulai terlihat kelelahan di entry point ini.

Entah kebetulan atau memang disengaja, ternyata di koordinat 89 8, 61 2 tim banteng bertemu kembali dengan tim cicak walaupun dengan arah yang berlawanan. Tim cicak terlihat akan menuruni punggungan tim banteng dengan alasan seratus meter di arah selatan (menuju puncak Salak) ada longsoran yang tidak dapat dilalui, kondisi ini membuat tim banteng cukup kaget karena baru saja menemukan jalur dua akan tetapi malah tidak bisa dilalui karena tertutup longsor. Kondisi ini membuat tim banteng sedikit kewalahan karena sekali lagi harus melakukan survey mengecek jalur yang dibilang tim cicak tadi dan survey kemungkinan jalur lain yang dapat dilewati apabila benar terjadi longsoran di selatan. Sekali lagi survey kali ini cukup menghabiskan banyak waktu bagi tim banteng karena tim banteng sama sekali belum melakukan penyisiran terhadap kemungkinan jalur yang dilalui korban dan masih saja sibuk mencari jalur punggungan. Akhirnya setelah survey menunjukkan hasil negatif terjadi longsoran di arah selatan dan atas saran dari SMC dilakukanlah metode penyisiran, beberapa SRU di sebar ke lokasi-lokasi disekitar lokasi istirahat tim banteng menelusuri jalur-jalur yang mungkin dilalui oleh korban.

Satu jam berlalu sejak penyisiran dilakukan dan tetap mendapatkan hasil yang negatif, akhirnya tim banteng mendapatkan instruksi lagi dari SMC untuk menuju lokasi kruks yang mungkin dilalui oleh korban dan dengan asumsi bahwa korban telah kehabisan perbekalan sehingga mencari sumber air terdekat. Tak lama setelah SMC memberikan instruksi, samar-samar terdengar teriakan dari arah barat yang kemungkinan bahwa itu adalah suara korban sehingga atas instruksi senior Mapala dan OSC beberapa orang langsung menyisir menuju arah sumber suara, sekali lagi hasil yang didapatkan masih negatif.

Sinar mentari mulai meredup dibalik pepohonan yang menandakan hari semakin senja, akhirnya diputuskan tim banteng akan mencoba mendekati lokasi titik kruks di ketinggian sekitar 1150 meter untuk memudahkan pergerakan keesokan harinya karena pergerakan hari ini lagi-lagi gagal memenuhi target yang sebelumnya diinstruksikan oleh SMC. Berjalan mendaki punggungan ternyata tidak terasa sudah melewati target ketinggian yang disepakati sebelumnya, terlalu bersemangat atau karena akibat menghilangkan altimeter sehingga akhirnya tersasar hingga mencapai ketinggian 1215 meter pada koordinat 90 1, 60 7. Kesalahan yang begitu beruntun dilakukan tim banteng membuat panas senior dan para mentor, sehingga suasana sore itu begitu kalut dan tidak bersahabat. Sekali lagi kami mencari posisi flyingcamp yang tepat untuk bermalam di punggungan, berlomba dengan senja yang semakin redup.

Rasa Lelah menjadi ‘sobat’ karib dalam penanganan SAR demi nyawa yang harus diselamatkan

Rasa jenuh, lelah, dan tertekan bergabung menjadi satu. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh tim SAR yang sebenarnya, dimana mereka memikul tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang mungkin bisa saja malah membahayakan jiwa mereka sendiri. Tidaklah mudah menjadi tim SAR, karena segala sesuatu baik itu petunjuk maupun instruksi dari SMC harus dapat dikomunikasikan dengan baik dan dilakukan dengan cekatan. Setiap detik yang berdetak begitu berharga bagi korban sehingga sebagai tim SAR harus bisa memaksimalkan waktu yang ada agar nyawa korban dapat diselamatkan.

Seperti prediksi sebelumnya evaluasi sabtu malam diisi dengan sederet kesalahan yang dilakukan oleh tim banteng, baik secara individu maupun berkelompok. Target waktu untuk menemukan korban tinggal tersisa satu hari lagi yang berarti harus maksimal dan total dalam penyisiran pada esok hari karena kemungkinan korban sudah sangat kehabisan perbekalan dan sudah empat hari tersesat di gunung Salak. Malam itu kembali terdengar teriakan meminta pertolongan dari arah lembahan, segera saja tim banteng berkoordinasi dengan SMC untuk mengatur rencana pergerakan untuk keesokan harinya dan akhirnya SMC merekomendasikan agar esok hari tim banteng melakukan survey ke dua arah yaitu menuju pertemuan punggungan dengan tim cicak ke arah selatan dan menyusuri ke arah lembahan. Tim banteng kembali berkoordinasi secara internal dan akhirnya diputuskan bahwa besok pagi 70% alokasi SRU dikirim survey ke lembahan dan sisanya menuju punggungan. Waktu istirahat bagi para SRU begitu berharga sehingga sesegera mungkin setelah koordinasi selesai dilakukan kemudian langsung beristirahat, mengisi tenaga yang hilang seharian.

Waktu subuh begitu cepat datangnya, rasa-rasanya baru sebentar tim banteng beristirahat. Suhu yang dingin di ketinggian 1200 meter menambah keengganan para SRU untuk melepas sleeping bag dan bangkit dari posisi tidur yang tidak beraturan di flyingcamp. Waktu menunjukkan pukul empat pagi, wajah-wajah lesu para SRU tidak terlihat karena gelapnya suasana. Hanya sesekali sorotan headlamp terlihat yang menandakan mulai ada kehidupan di flyingcamp ini. Semangat terus dipompa karena hari ini adalah hari terakhir pencarian para korban, apabila ditambah satu hari lagi mungkin para SRU tim banteng tidak akan mampu karena tenaga yang begitu banyak terkuras selama perjalanan terlebih lagi persediaan air setiap kelompok yang semakin menipis, mungkin akan mengandalkan air sungai apabila ditemukan.

Seperti rencana dimalam sebelumnya, empat orang anggota tim banteng ditambah satu orang mentor dikirim menuju pertemuan punggungan dengan tim cicak ke arah selatan dan delapan orang dikirim menuju ke lembahan dengan komposisi empat orang menyisir lembahan barat dan empat orang lainnya menyisir lembahan timur dan setiap kelompok terdiri atas satu orang mentor yang juga bertindak sebagai SRU. Sedangkan dua orang sisanya yaitu OSC dan PJ komunikasi berjaga di flyingcamp sambil terus berkoordinasi dengan SMC dan tim banteng yang melakukan survey ke punggungan dan lembahan.

Igir-igir, batas tepian dunia

Survey menuju pertemuan punggungan bukanlah hal yang mudah, medan yang menanjak tajam sepanjang perjalanan ditambah jalur yang sulit, pepohonan yang cenderung rapat dan berjurang membuat anak banteng yang menuju puncakan harus ekstra hati-hati. Untung saja anggota yang dikirim menyisir jalur ini adalah orang-orang yang cukup cepat dalam pergerakan, maklum saja jatah waktu yang diberikan hanya satu jam survey kemudian kembali ke flyingcamp. Dalam waktu lima puluh menit anak banteng berhasil menuju punggungan yang menghubungkan ke jalur tim cicak, hanya saja perjalanan tidak dilanjutkan karena medan akan dilalui adalah igir-igir, yaitu punggungan sempit dan curam sehingga pastinya membutuhkan waktu yang lebih lama apabila memaksa menerobos menuju punggungan tim cicak. Daerah igir-igir cenderung terbuka dan pohon yang tumbuh hanya beberapa saja, sehingga hembusan angin begitu terasa hebatnya. Mungkin benar seperti kata pepatah ‘semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya’ apalagi sebuah puncakan pegunungan disana sangat kencang angin yang berhembus, salah-salah bisa terhempas ke jurang akibat kerasnya hembusan angin tersebut. Anak banteng pun memutuskan untuk kembali ke flyingcamp untuk memberikan laporan hasil survey dan memberikan beberapa jackpot yang ditemukan selama penyisiran.

  

Beberapa Tanda (Jackpot) mengidikasikan kemungkinan korban pernah melalui jalur tertentu, Tanda dapat berupa jejak atau bekas makanan yang masih baru, ranting semak yang patah, ataupun barang-barang yang sengaja ditinggalkan.

Jackpot hasil penyisiran anak banteng terindikasi cukup meyakinkan, sehingga anak banteng kembali dikirim menuju pertemuan punggungan dengan tim cicak, setidaknya mendekati punggungan tim cicak untuk memastikan apakah ada kemungkinan korban menyebrang ke punggungan tim cicak melewati igir-igir tersebut. Waktu satu jam kembali diberikan kepada anak banteng yang menuju puncakan, waktu ini dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menerobos igir-igir yang cukup sulit. Beberapa kejadian sempat terjadi selama perjalanan ini diantaranya hampir terperosok ke jurang, merangkak melewati igir-igir karena tidak ada pohon yang bisa dipegang, dan yang paling mengagetkan adalah anak banteng sempat beberapa kali mendengar teriakan minta pertolongan dari arah punggungan barat dan lembahan, padahal posisi anak banteng saat itu berada pada ketinggian sekitar 1400 meter. Hal yang cukup misterius memang, akan tetapi anak banteng tetap terus berkoordinasi dengan OSC dan SMC untuk tindakan selanjutnya. Akhirnya anak banteng diberikan perintah untuk menelusuri arah sumber suara yang berasal dari lembahan tersebut. Dari ketinggian 1400 meter anak banteng langsung memelipiri punggungan menuju lembahan, akan tetapi tiba-tiba suara hilang dan yang terdengar kemudian hanyalah suara dari anak banteng lainnya yang sedang menyisir daerah lembahan.

Pencarian dan Penyapuan lembahan

Daerah pencarian mulai semakin sempit, setelah dipastikan korban tidak menuju igir-igir karena setelah disurvey pada ketinggian 1500 meter pepohonan begitu rapat sehingga kecil kemungkinan korban melewati daerah tersebut apalagi dengan membawa carrier. Ketiga kelompok anak banteng bertemu dilembahan dan atas saran dan instruksi dari SMC bahwa anak banteng diharapkan melakukan survey di punggungan timur dan barat hingga menuju pertigaan sungai kearah utara. Metode pencarian dan penyapuan pun diterapkan, anggota SRU yang menyisir punggungan barat melakukan metode open grid, yaitu berbaris satu shaf dan antar anggota diberi jarak 10 sampai 15 meter, kemudian yang menyisir punggungan timur melakukan teknik penyapuan creeping, yaitu proses penyapuan dengan cara zig-zag beberapa meter (sejauh mata memandang) untuk memastikan jalur yang dilewati sudah ‘hijau’. Waktu yang diberikan ternyata tidak mencukupi hingga ke pertigaan sungai, sehingga anak banteng kembali ke flyingcamp untuk berkoordinasi lebih lanjut mengenai pergerakan selanjutnya karena hari sudah semakin siang dan tim banteng diharapkan sudah sampai di posko SAR pada sore hari.

Penampang melintang jalur pendakian yang dilalui oleh tim banteng dalam operasi SAR

Setelah melakukan koordinasi secara internal karena komunikasi dengan SMC sudah dipastikan terputus akibat batrai HT (Handy Talky) sebagai media komunikasi sudah drop, tim banteng akhirnya mengikuti saran terakhir yang diterima dari SMC untuk menyisir daerah lembahan timur dan barat sampai ke pertigaan sungai. Dengan semangat terakhir yang dimiliki, tim banteng bergegas menyusuri lembahan melanjutkan penyapuan sebelumnya yang dilakukan oleh anak banteng. Sempat tersasar ke punggungan tim banteng sendiri kemudian menyebrang sungai menuju punggungan barat dengan harapan masih ada waktu untuk menemukan korban. Akan tetapi berhubung hari semakin senja dan tim banteng dituntut untuk mencapai posko tepat waktu akhirnya tim banteng memotong punggungan hingga ke jalur empat untuk melanjutkan perjalanan menuju posko SAR dengan kecepatan tinggi mengejar waktu yang semakin sempit. Akhirnya tepat saat maghrib tim banteng tiba di posko SAR dan disambut oleh tim cicak yang sudah lebih dahulu sampai di posko SAR.

Jalur yang dilalui oleh tim banteng dalam operasi SAR

Simulasi penanganan SAR pada perjalanan kali ini hampir seperti penanganan SAR yang sebenarnya, sehingga perjalanan kali ini terasa begitu berbeda karena kami selain dituntut untuk memantapkan semua materi yang sebelumnya diberikan oleh mentor juga dituntut untuk menyelamatkan jiwa orang lain. Banyak evaluasi yang menjadi masukan dalam perjalanan kali ini, semoga saja dengan mendapatkan pengalaman ini kami sebagai pecinta alam menjadi lebih waspada dan lebih siap lagi sebelum melakukan sebuah perjalanan, karena seperti petuah para senior Mapala ‘suatu perjalanan yang baik dimulai oleh persiapan yang baik’ dan persiapan yang kurang baik adalah faktor utama terjadinya kesalahan dalam bergiat dialam bebas.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: