‘Gunung Salak’ langkah menggapai batas cakrawala

Berawal dari obrolan iseng di salah satu kost teman di gang sempit Bara 1, Darmaga, Bogor, Jawa Barat. Seperti biasanya tempat ini dijadikan tempat kumpul (Base Camp utama) teman-teman satu jurusan untuk sekedar melepas lelah sehabis kuliah maupun sebagai tempat untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting.  Hari itu cuaca cerah berawan dengan kelembaban sedang, tidak ada hujan, tidak ada petir maupun angin puting beliung, kami pun sepakat untuk kumpul-kumpul di Base Camp untuk melepas penat sehabis kuliah siang yang melelahkan. Seperti biasanya banyak pembicaraan tidak penting yang dibahas secara serius dan berkesinambungan (Halagh…), tapi memang seperti itu keadaanya dan kalau sudah semakin error malahan harus segera diobati ke Mak Error🙂.

Rasa lelah membuat saia tidak mengikuti arah pembicaraan teman-teman saat itu, sampai suatu ketika ada topik yang tiba-tiba mengusik ketenangan saia. Dalam pembicaraan itu dibahas mengenai penakluk alam. Masing-masing orang menceritakan kehebatannya dalam menghadapi alam bebas, maklum sebagian besar mereka adalah anak-anak rantau dimana di kampung halaman masing-masing yang terbatas fasilitasnya mereka sudah terbiasa dalam menaklukkan alam (Halagh…) kalau saia sendiri sih tidak begitu langsung percaya, kami butuh bukti bukan janji-janji manis mu…🙂. Setelah berdebat panjang x lebar x tinggi, akhirnya tercetus lah bagaimana kalau untuk membuktikannya kami akan naik gunung bersama-sama. Berhubung posisi kami itu di daerah Bogor maka gunung yang ideal dan prestisius untuk didaki adalah gunung GEDE, gunung Pangarango, dan gunung Salak.

Setelah ditimbang-timbang, dilihat, diraba, diterawang, dan dikiloin akhirnya kami sepakat untuk menjadikan gunung Salak sebagai korban pertama kami dalam bergelut di alam bebas (hehe… gayabanget.com) padahal kenyataanya pertama dan terakhir alias langsung pada ambil pensiun dini🙂.

Setelah tujuan sudah diputuskan, maka tindakan selanjutnya adalah mencari tanggal yang tepat, yaitu untuk tidak mencari tanggal di akhir bulan karena dompet sudah pada cekak semua🙂 maklum mahasiswa. Jumat, 06 oktober 2006 adalah tanggal yang dipilih untuk memulai ekspedisi kerena tanggal tersebut merupakan tanggal merah alias libur jadi cukup panjang untuk perjalanan.

Tujuan dan waktu sudah ditetapkan, tahapan berikutnya adalah peserta. Setelah seleksi ketat (seleksi alam) akhirnya yang berhasil terprovokasi adalah sembilan orang laki-laki lajang, imut dan masih labil🙂 terdiri atas Suya, Dani, Olon, Santos, Hexa, Uchok, Lubis, Betet, dan Azra. Bagi yang tidak ikut sudah di cap omdo (Omong Doang-red). Setelah peserta didapatkan, maka tahapan berikutnya adalah persiapan peralatan dan logistik. Seingat saia kami patungan masing-masing sebesar lima puluh ribu rupiah untuk penyewaan peralatan (tenda) dan logistik (beras ,mie instan, minyak tanah). Untuk peralatan pribadi dibebaskan mau bawa apa aja, karena memang tidak tahu mesti bawa apa (parah *_*).

Dan Perjalananpun dimulai….

Hari-H (jumat, 06 Oktober 2006) selepas sholat Jumat sekitar pukul 14.00 siang kami berkumpul di Noescamp (Base Camp kedua) untuk membagi-bagi peralatan yang akan dibawa selama perjalanan. Setelah peralatan sudah dipacking (asal-asalan) kami pun berangkat untuk menuju terminal Baranangsiang untuk kemudian dilanjut naik mobil angkutan umum yang ke arah cianjur (kalo gak salah :D) kemudian turun di pasar (lupa namanya) deket pertigaan Javana Spa. Di pasar tersebut kami membeli logistik yang masih kurang seperti minyak tanah dan cemilan untuk dibawa. Dari pertigaan Javanaspa kami menyewa angkutan untuk naik hingga pintu masuk Gunung Salak, dalam perjalanan yang cukup panjang dan berliku-liku akhirnya kami masuk ke desa yang berbatasan dengan pintu masuk gunung salak dan membayar retribusi (lupa berapa bayarnya) setelah itu kami diturunkan di desa tersebut padahal masih lumayan jaraknya ke pintu masuk gunung Salak. Setelah debat kusir dengan pak sopir angkot yang tidak sesuai dengan perjanjian awal, kami pun melanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke pintu masuk gunung Salak (life must go on sob…).

Berjalan kaki selama kurang lebih 3 jam akhirnya kami pun sampai di pintu taman nasional gunung salak sekitar pukul 22.00 malam, baru berjalan sampai pintu masuk saja sudah dapat terlihat wajah-wajah suram dan kelelahan. Alasannya beragam ada yang bilang Jet leg, Jet pump, Jet Set, bahkan ada yang bilang lagi dapet (lho…) maklum karena jarang olahraga🙂 dan sepertinya hanya saia yang terlihat masih MACHO (MAkan CHOmbro). Melihat gerbang “Pintu Masuk Gunung Salak” kami sepertinya sudah merasa berjuang hingga ke puncak tertinggi, beberapa orang langsung bergelimpangan di depan loket masuk dengan gaya yang mengenaskan dan yang lainnya beristirahat sambil berkelakar untuk foto di pintu masuk kemudian pulang lagi hanya untuk membuktikan sudah pernah ke gunung Salak🙂 hehehe. Rasa lelah, ngantuk, dan lapar semuanya campur aduk jadi satu. Kami pun harus gerak cepat karena udara terasa semakin dingin dan rasa lapar pun terasa semakin menjadi-jadi. Kami memutuskan untuk makan di warung yang dekat dengan pintu masuk dan kemudian sholat di musholla secara bergantian.

Haripun akhirnya semakin larut, kami sedikit terlupa untuk mendaftarkan diri ke loket penjagaan. Sekali lagi kesabaran kami kembali diuji, beberapa teman lupa membawa fotokopi kartu identitas sehingga kemungkinan terburuknya adalah tidak jadi naik ke gunung salak karena tidak mungkin meninggalkan teman yang lain, kemudian kami juga harus membayar lagi untuk uang retribusi agar dapat masuk ke taman nasional gunung Salak. Keinginan yang kuat untuk bergiat dialam bebas dan kondisi keuangan yang terbatas membuat kami memutar otak untuk mengatasinya.

Kami pun mendelegasikan salah satu rekan kami (BeTet) yang merupakan orang Bojong (Kabupaten Bogor :)) dan bisa berdiplomasi (dengan bahasa sunda) secara lumayan untuk setidaknya membantu dalam meloloskan misi suci ini (lebay.com). Dengan sedikit membawa-bawa nama universitas, nama daerah, nama peserta, nama pacar, dan dengan didukung dengan wajah yang memelas dan akhirnya Mission has accomplished,

Metode diplomasi ini berhasil… kami pun masuk dengan biaya yang lebih murah😀 Alhamdulillah. Malam itu kami pun bermalam di salah satu bukit dekat pintu masuk untuk beristirahat dengan tenang sambil diiringi musik dugem (Lho…), tapi memang begitu kenyataannya. Saat itu saia dan rekan-rekan yang lain tidak habis pikir kok bisa-bisanya ada komunitas “dugem” yang ajojing di gunung (parah.com) yah mungkin memang dunia semakin error, sehingga harus segera dibawa ke Mak error🙂.


Hari ke-2, Menggapai tanpa arah di Puncak Salak

Hari-H+1 (Sabtu, 07 Oktober 2006) diawali dengan sholat subuh secara bergantian di camp kemudian dilanjutkan dengan makan perbekalan (makanan ringan) yang sudah disiapkan sebelumnya. Kami pun packing kembali dengan semangat 45 untuk mempersiapkan perjalanan yang sesungguhnya, yaitu perjalanan menuju pucak gunung Salak (semangadddhhhh….). perjalanan diawali dengan mengikuti jalur jalan aspal cukup jauh, sampai-sampai kami tadinya berfikir kalau mungkin saja jalur aspal ini sampai puncak gunung salak🙂 hehehe, jadi bisa nyarter angkot sampai puncak salak.

Tapi ternyata jalur dilanjutkan dengan jalan setapak berbatu-batu (sudah mulai menantang). Tanjakan, turunan, lika-liku, laki-laki, sudah kami lalui dengan penuh perjuangan dan gengsi. Maklum masing-masing orang tidak mau terlihat lemah, karena bisa-bisa jadi bahan cengan (tertawaan) seumur hidup🙂 hehehe. Perjalanan akhirnya terhenti di sebuah air terjun sekitar pukul 08.00 pagi, kami pun mencari tempat yang relatif kosong dan datar untuk dijadikan tempat untuk masak-masak. Kami secara khusus membawa chef (gorbachef) jauh-jauh untuk membuatkan masakan yang maknyus…setelah 2 jam menunggu akhirnya masakan pun jadi, menu pagi itu adalah nasi campur belang-belang (ada yang gosong, ada yang belum matang) dan mie rebus kelamaan (jadi lembek deh)🙂 hahaha. Maklum lah chefnya biasa megang pacul disuruh masak. Tapi yang penting perut diisi walaupun nantinya akan dimuntahin lagi setelah diisi😀 saia pun akhirnya memutuskan untuk makan nasi dikit + mie, karena selera makan langsung sirna sewaktu makanan disajikan.

Acara kedua setelah makan-makan adalah foto-foto, yup ini adalah momen bersejarah karena mungkin akan langsung ambil pensiun dini setelah perjalanan ini. Semua kejadian diabadikan, mulai dari gaya pendaki gunung sejati sampai gaya spidermen ketiban ransel pun ada (itulah hebatnya kami). Panas yang cukup terik saat itu akhirnya mendorong kami untuk mandi di air terjun yang segar, acara mandi-mandi pun dimulai pukul 10.45 pagi pokoknya seperti dayang-dayang mandi disungai deh (halagh…). Pukul 12.00 siang perjalanan dilanjutkan mengikuti jalan setapak serta mengikuti kemana angin berhembus dan rumput bergoyang. Seperti itulah karena kami mengikuti feeling saja dengan mengikuti jalan setapak, permasalahannya adalah kalau jalan setapaknya sudah bercabang (kanan-kiri) kami pun akhirnya coba-coba. Maklum karena kami jarang bertemu dengan pendaki lainnya.

Sempat kami cukup setress karena mungkin saja salah jalan karena tidak ada pendaki lain yang bisa ditanyai. Pendakian pun dilanjutkan dengan melewati bukit, lembah, sungai, hutan, tanjakan, turunan, jalan berbatu, jalan tanah, rumput-rumput ilalang sampai akhirnya kami pun melewati sebuah warung kelontong (lho…) sempat agak bingung juga karena ada warung di gunung. Nama warungnya adalah “Warung Pak Bajuri” disana disediakan segala macam, mulai dari susu, teh, kopi, cemilan, mie rebus, dan lainnya pokoknya cukup lengkap lah. Pada awalnya kami mengabaikan adanya warung tersebut karena mengejar waktu untuk mencapai tujuan utama kami, yaitu membuat camp di puncak gunung salak.

Lagi-lagi tanjakan terjal harus dilalui, beberapa teman mulai  terlihat kelelahan dan sedikit sensi (sensitif-red), sehingga tadinya diawal perjalanan selalu ramai dengan canda-tawa guyonan tidak penting, sekarang menjadi sunyi senyap tanpa suara, tanpa kata-kata dan hanya jangkrik-jangkrik liar yang berani bersahut-sahutan (krik..krik..) situasi emosional pun memuncak manakala beberapa teman sudah mulai muak dengan perjalanan tanpa arah yang kami lakukan dan hanya mengandalkan feeling saja. Sehingga perang kata-kata beberapa kali terjadi dan yang lainnya hanya bisa menengahi dan mengelus dada (huft, sabar bos..). Akhirnya dari arah berlawanan ada serombongan orang yang turun dengan tergesa-gesa, inilah kesempatan kami untuk bertanya. Kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk bertanya kepada mereka.

Kami             : Permisi kang, apakah pucak salak masih jauh?

Pendaki lain  : Sedikit lagi lah, kira-kira satu kilo lagi. kami baru saja dari sana, memangnya mau nge- camp diatas yah kok bawa ransel segala?

Kami              : Oh iya rencananya gitu, diatas ada air gak ya?

Pendaki lain   : Diatas gak ada air, kalo bisa jangan ngecamp diatas, mending tasnya dititipin di warung dibawah. Maap yah kami agak buru-buru     karena kabut sudah mau turun

Kami              : Oh iya terima kasih informasinya

Beberapa menit setelah mereka turun dengan tergesa “Kabut pun turun pelan-pelan di lembah kasih” kata abang Gie🙂 semuanya takjub melihat kabut turun dengan perlahan dari atas dan udara pun terasa semakin sejuk sampai akhirnya kami tersadar bahwa semuanya menjadi putih dan jarak pandang mungkin hanya 10-15 meter dan langit tiba-tiba menjadi gelap disertai samar-samar gemuruh petir. Kepanikan akhirnya mulai terjadi, kami turun dengan tergesa-gesa seperti halnya rombongan yang sebelumnya turun. Tetapi bedanya kami membawa beban ransel yang cukup menjadi hambatan. Semua medan terjal dilalui dengan cepat, rekan kami Azra di belakang bahkan terjatuh berkali-kali karena medan yang sulit tersebut. Hujan akhirnya mengucur dengan deras dari angkasa, kami masih saja terus berlari dan Azra beberapa kali masih terdengar terjatuh di belakang, mungkin karena menggunakan sendal jepit sehingga sangat licin saat melalui jalan tanah yang terkena hujan. Jarak pandang semakin sempit dan formasi rombongan kami pun berantakan, sehingga kami saling bersahut-sahutan untuk mengetahui posisi masing-masing. Akhirnya kami pun tiba di warung pak Bajuri dengan basah kuyup dan ransel yang juga basah, beberapa pakaian masih bisa diselamatkan untuk digunakan sebagai pakaian ganti.

Kami pun menumpang sholat (dzuhur-ashar) di warung tersebut kemudian memesan teh manis hangat untuk mengobati dingin yang menjadi-jadi. Baru beberapa teguk minuman hangat dan sedikit berbincang-bincang dengan pemilik warung, malam pun akhirnya datang tanpa kami sadari. Sebenarnya kami agak ragu apakah ini benar-benar warung kelontong atau warung jadi-jadian (hiii….) karena posisinya yang berada di tengah hutan belantara. Pokoknya Bismillah saja lah, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang aneh-aneh. Sekali lagi menumpang sholat di warung pak bajuri, kami pun melanjutkan dengan makan malam. Pada malam tersebut kami membeli makanan dari warung pak Bajuri dengan tujuan menghormati beliau yang telah dengan tangan terbuka membolehkan kami menginap dipelataran warungnya malam ini. Sekali lagi makan mie rebus, tapi kali ini tidak kelembekan seperti tadi pagi🙂.

Malam ini diwarnai dengan insiden emosional antara Olon dan Santos, mungkin karena kondisi yang sama-sama lelah sehingga salah bicara sedikit sudah langsung emosi. Yah begitulah keadaannya, kalau saia sendiri tidak mau terlibat hal yang seperti itu, cukup diam dan memperhatikan saja. Malam yang berat pun harus kami lalui karena sebagian besar rekan-rekan tidak membawa jaket hangat apalagi sleeping bag. posisi berjejer seperti ikan sarden, dengan suhu yang sangat dingin membuat saia tidak dapat tidur walaupun mata ini sangat lelah. Kondisi ini cukup membuat down karena mungkin saja malam tersebut bisa menjadi malam terakhir bagi kami. Saia pun akhirnya memaksakan diri untuk bergerak dan mengambil wudhu di sungai terdekat yang airnya sangat-sangat dingin. Alhamdulillah dengan terkena air super dingin tersebut pori-pori kulit saia pun tertutup sehingga udara dingin menjadi tidak begitu terasa lagi dan akhirnya bisa tidur walaupun hanya sebentar.

Kawah ratu, Jalur yang ‘Menakjubkan’

Hari-H+2 (Minggu, 08 Oktober 2006) diawali dengan sholat subuh secara bergantian dan kondisi cuaca yang masih berkabut dengan jarak pandang masih terbatas. Kami ragu untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena berdasarkan informasi dari pak Bajuri perjalanan keatas bisa memakan waktu setengah hari dan teman kami Dani mengalami cidera pada kakinya, terlebih lagi kami harus pulang ke Darmaga hari itu juga karena keesokan harinya sudah mulai kuliah seperti biasa.

Dengan pertimbangan yang berat akhirnya kami memutuskan untuk pulang padahal sedikit lagi menggapai puncak. Awalnya saia sedikit kecewa, namun dengan menjauhkan pemikiran yang egois dan ambisi pribadi. Akhirnya saia dengan lapang dada bisa menerima keputusan tersebut. Pagi itu kami memutuskan untuk kembali makan di warung pak Bajuri karena sudah tidak percaya dengan chef yang kami bawa🙂 kali ini kami menukarkan perbekalan kami seperti beras, mie, dan minyak tanah untuk ditukar dengan semangkuk mie dan teh manis hangat. Lumayan lah kalau di hitung-hitung transaksi barter ini menghemat uang dan juga meringankan beban ransel kami. Walaupun agak rugi-rugi sedikit tak masalah namanya juga barter.

Pagi itu diwarnai dengan berdamainya Santos dan Olon sehingga semakin menghangatkan suasana dan menambah semangat untuk perjalanan pulang. Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi dan kabut pun sirna dari permukaan bumi. Maka kami pun bersiap berangkat pulang dengan rute melewati kawah ratu, setelah pamit dengan pak Bajuri sekeluarga kami kembali berjalan melewati jalan setapak dengan semangat baru. Perjalanan ini cukup sulit karena beberapa sandal putus termasuk sandal saia, maklum lah karena menggunakan sendal jepit murahan sehingga memaksa untuk berjalan tanpa alas kaki alias nyeker. Hehehe.. tidak masalah anggap saja terapi secara alamiah. Perjalanan pulang ini terasa lebih berat dari sebelumnya karena medan yang lebih sulit dan jalan setapaknya berbatu tajam sehingga menyulitkan saia dan beberapa rekan yang tidak menggunakan alas kaki untuk melewatinya dan sampailah kami di sebuah wilayah yang tandus dan dikelilingi oleh bukit-bukit kapur tajam bercampur sulfur. Tempat yang menurut kami sangat ekstrim, karena wilayah yang lain hijau dengan pepohonan lebat sedangkan disana tandus tanpa satupun pohon yang dapat hidup. Bentuknya seperti dua buah bukit dengan satu lembah ditengahnya dan ditengah-tengah lembah itu mengalir sungai kecil yang mengandung sulfur dan cukup hangat airnya. Daerah itu dikenal dengan nama Kawah ratu, karena konon katanya daerah tersebut tercipta akibat hasil letusan dari gunung Salak ribuan tahun yang lalu.

Disana saia berusaha melewati bebatuan kapur tajam dengan sangat hati-hati, beberapa kali kaki tertusuk batuan tajam dan sangat menyakitkan. Rute yang harus kami lalui adalah turun dari bukit pertama ke lembah kemudian naik kembali ke bukit kedua baru kemudian melanjutkan perjalanan. Cukup melelahkan memang sehingga saia berupaya untuk secepat mungkin melewatinya. Di tengah perjalanan menuruni bukit pertama, empat orang teman (Betet, Suya, Azra dan Lubis) dengan wajah serius diam berdiri dipinggir bukit sepertinya sibuk memperhatikan ke arah lembah. Saia sempat terheran-heran bisa-bisanya mereka santai-santai padahal kami sedang diburu waktu untuk pulang.

Setelah mendekati dan bertanya ada kejadian apa dibawah barulah saia mengerti, ternyata dilembah sana terdapat satu pasangan (laki-laki dan perempuan) dimana yang laki-laki adalah seorang bule dan yang perempuan pakle🙂 yang perempuan orang lokal sedang sibuk foto-foto di sungai kecil di tengah lembah. Masalahnya adalah (jreng-jreng…) si perempuan tidak menggunakan pakaian sama sekali, jadi berpose bugil di sungai air hangat dibawah (parah…) pantas saja empat orang itu memasang wajah serius (jarang-jarang bisa begitu). Alhamdulillah Allah memberikan mata minus sehingga saia tidak ikut-ikutan🙂 tapi penasaran juga sih. Hehehe. Setelah memaksa empat orang itu akhirnya kami melanjutkan perjalanan sambil meneriaki si fotografer dan model cabul tersebut agar setidaknya malu dan tidak melanjutkan perbuatan mesumnya.

Perjalanan masih terus berlanjut, kami merindukan suara kendaraan bermotor karena asumsinya apabila sudah terdengar suara kendaraan bermotor maka sudah semakin dekat dengan pintu keluar. Rasa jenuh, lelah, bosan, dan lapar bercampur aduk menjadi satu, bahkan untuk jalan saja kaki sepertinya harus diseret-seret. Kami terus berjalan, walau lambat yang penting terus bergerak untuk mengejar waktu. Perjalanan pun mulai terasa lebih ramai karena beberapa rombongan terlihat melewati jalur yang sama maupun berlawanan dengan kami, dengan melihat orang-orang tersebut kami pun tambah semangat karena asumsinya pintu keluar sudah semakin dekat (Semangadh sob..) dan memang benar akhirnya pintu keluar berhasil ditembus sekitar pukul 13.00 siang. Kami semua langsung bergelimpangan di loket pintu keluar.

Setelah melapor dan memberikan sampah yang kami bawa selama perjalanan untuk dibuang di dekat loket, kami dengan semangat menuju jalan raya karena mulai terdengar suara-suara kendaraan bermotor (Alhamdulillah…). Melepas lelah di pinggir jalan sambil membeli nasi uduk untuk makan siang membuat energi dan otak kami kembali bekerja setelah sebelumnya nge-Hang kelas berat🙂.

Posisi kami sekarang berada di kawasan gunung Bunder, Bogor. Sehingga harus menyewa kendaraan untuk turun dan yang lebih menghawatirkan adalah kondisi keuangan yang benar-benar tipis dan memang tidak ada kendaraan yang bisa disewa (karena tidak ada uangnya :() Untuk itu kami sekali lagi harus melewati ujian berat terakhir yaitu menuruni gunung Bunder dengan berjalan kaki.

Kondisi ini diperparah dengan keadaan cuaca yang panas terik dan kami harus melewati jalan beraspal (Puanas Buangetttt…) sehingga kaki saia dan beberapa teman yang sendalnya putus terlihat melepuh karena saking panasnya jalanan aspal yang dilewati. Berteduh sebentar di warung-warung sekitar jalan, kemudian lanjut perjalanan lagi hingga akhirnya kami berteduh di pinggir jalan yang ada sungainya sambil mencelupkan kaki ke air, merasa sudah tidak sanggup lagi melewati jalanan panas tersebut😦 kami akhirnya sepakat untuk bergantian menggunakan sandal, jadi setiap kali melakukan transit, kami secara bergantian menggunakan sandal sehingga panasnya tidak terlalu lama terasa.

Waktu menunjukkan hampir pukul 15.00 kami pun sholat dzuhur di musholla pinggir jalan, kemudian lanjut jalan lagi sampai tiba-tiba ada mobil bak terbuka yang lewat. Kami pun mencoba memberhentikannya, lumayan untuk menghemat waktu dan tenaga. Disaat seperti itu kami masih saja sempat mengerjai Uchok dengan menyembunyikan tas kompor (seperti bentuk laptop) saat menumpang mobil tersebut, sehingga Uchok kelimpungan mencarinya (maklum kompor pinjaman…:)) cukup lucu untuk sekedar melupakan sejenak kesulitan yang kami hadapi saat itu. Mobil pun akhirnya berbelok sehingga kami harus turun karena tujuan kami masih terus kebawah.

Sekali lagi perjalanan yang melelahkan walaupun matahari sudah tidak seterik siang tadi tetapi panasnya aspal benar-benar memanggang kaki kami. Setelah lama berjalan ada mobil bak terbuka lagi yang lewat dan kami pun kembali menumpang walaupun cuma sebentar karena lagi-lagi mobil tersebut berbelok ke arah yang berbeda.

Kali ini tensi semakin tinggi beberapa rekan sempat terlibat debat kusir untuk masalah yang tidak begitu jelas rimbanya. Saia terus saja berjalan untuk segera mencapai tujuan utama kami yaitu sampai kost, mandi, makan makanan yang enak versi mahasiswa (WARTEG :)) dan tidur yang nyenyak.

Hayo sob buruan… sekedar menyemangati rekan-rekan yang semakin setress dalam perjalanan panjang ini. Hujan pun turun dengan tiba-tiba, sekedar mendinginkan aspal yang panas dan juga mendinginkan hati kami yang juga semakin panas.

Waktu pun menunjukkan sekitar pukul 17.00 sore dan akhirnya kami sampai di jalan besar, daerah tersebut bernama CIBATOK dan berada di wilayah kabupaten Bogor (Halgh…) cukup dekat dengan kampus kami di Darmaga apabila naik angkot :p

“Jadi…. kita jalan dari daerah sukabumi sana sampai ke dekat kampus….”

Beberapa orang terlihat syok dan harus diberikan napas buatan. Hehehe… yah pokoknya syok abis, karena isinya benar-benar perjalanan panjang dan emosional. Setelah berjalan sebentar ke pertigaan kami naik angkutan jurusan CIAMPEA-BUBULAK dengan membayar dua ribu rupiah dan tidak berapa lama (sekitar pukul 18.00) sudah sampai kampus di Darmaga dan turun di kosan masing-masing dengan damai.

Perjalanan ini adalah sejarah dalam catatan kehidupan kami dan hanya untuk membuktikan gengsi dan jati diri bahwa kami bukan orang yang lemah walaupun pada kenyataanya beberapa teman langsung ambil pensiun dini🙂. Sedangkan bagi saia perjalanan ini merupakan pembuktian untuk menentukan siapakah yang benar-benar menjadi teman sejati yang mampu berbagi disaat susah maupun senang.

3 Comments

3 thoughts on “‘Gunung Salak’ langkah menggapai batas cakrawala

  1. Saipullah

    wow… perjalanan yang berat dan mengesankan bung hexa

  2. omzen

    Yup om .. stujuh .. paling gampang ngeliat karakter asli orang adalah menghabiskan 1 hari bersamanya dalam kondisi penuh tekanan dan menguras staminany .. topengny perlahan2 akan lepas dan kita bisa tau siapa dia (bahkan kita) sesungguhny .. eaaa .. #kangennaekgununglagijadinya

    • @all: makasih komentarnya
      @ bang omzen : pastinya bang keliatan tuh karakter aslinya gak bisa ditutup-tutupin lagi. salah satu cara efektif cari siapa yang merupakan ‘sahabat’ atau hanya menjadi ‘kawan’ adalah naik gunung😀 sekalian membentuk karakter pribadi menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup.

      up..up..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: