“Kota Tua” Jakarta, Eksotisme dan Sejarah Kota Tempo Doeloe

Kota Jakarta adalah kota yang selalu identik dengan bangunan pencakar langitnya yang megah dan modern. Gegap gempita kehidupan kotanya yang selalu ‘membangun’ membuat kawasan ini menjadi ikon sebuah ‘kota besar’ bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Yah, walaupun masih banyak ‘PeEr’ disana-sini menurut saya pembangunan di Jakarta memang cukup pesat. Banyaknya bangunan-bangunan modern yang ‘setinggi langit’ terkadang membuat mata ini jenuh. Penat dengan segala rutinitas pekerjaan membuat saya menginginkan sebuah suasana baru, tempat yang nyaman dan tidak terlalu jauh dengan lokasi domisili saya saat itu di bilangan Jakarta Selatan, yah kalau bisa sih masih di sekitar Jakarta saja karena waktu libur akhir pekan yang pendek dan masih banyak tugas yang harus diselesaikan.

Hmm… berfikir sejenak, dimana ya…. Tiba-tiba saja terbersit sebuah nama yaitu ‘Kota Tua’ Jakarta, nama yang tidak asing terdengar tetapi belum pernah sekalipun saya menjejakkan kaki disana.

Dengan berbekal semangat yang kuat dan informasi dari ‘mbah’ google akhirnya saya memutuskan untuk mencoba pergi kesana tentunya seperti biasa ‘ngomporin’ dulu teman-teman yang lagi pada ‘galau’ untuk ‘capcus’😀 Yah dari pada pusing sendirian dan minum baygon mending jalan-jalan selaw kan. hehehe

'Kota Tua' Jakarta

Kawasan ‘Kota Tua’ Jakarta

Kawasan ‘Kota Tua’ terdapat di daerah Kota, jakarta Barat. Kawasan ini dekat dengan Stasiun Beos (Kota) dan Halte Busway sehingga cukup mudah untuk diakses terutama bagi pengguna transpotasi publik seperti saya ini. Dengan berbekal Rp.3500 Saya berangkat dari kuningan menggunakan Busway menuju shelter akhir di Kota, janjian bertemu di shelter Busway Kota dengan teman-teman seperjuangan yang sedang main ke Jakarta.

Awalnya sedikit bingung lokasi persisnya kawasan ‘Kota Tua’ berada karena bentuk bangunan disana yang hampir sama sehingga membuat ‘disorientasi’ dimana posisi yang sebenarnya berada😀 cadass gan. Untuk kondisi survival seperti ini kami sudah mempersiapkan diri dengan jurus utama ‘kompas bacot’ yaitu nanya ke orang lewat, hehehe. Cara ini memang yang paling mudah dan cukup efektif langsung ke sasaran.

Dengan berbekal informasi (‘mbah’ google dan nanya-nanya) akhirnya kami memutuskan sasaran pertama yang akan kami sambangi adalah Musium Bank Mandiri. Musium ini berlokasi di sebelah barat Halte Busway Kota, tepatnya di seberang shelter Busway tempat kami berada saat itu. Untuk menuju kesana kami harus melewati terowongan yang memiliki bentuk unik dan artistik. Saat pertama kali melewatinya kami pikir itu seperti kolam air mancur, ternyata itu adalah akses jalan yang berbentuk melingkar kemudian masuk ke terowongan dan akhirnya terhubung ke seberang jalan tepat di depan Musium Bank Mandiri.

Fasilitas yang saya bilang cukup ‘keren’ ide nya, akan tetapi sangat disayangkan banyak pengemis yang membuka lapak disana sehingga membuat arus jalan menjadi kurang lancar karena pengguna jalan yang melewati terowongan itu cukup ramai, mungkin hingga ratusan orang terutama pada jam-jam sibuk seperti saat akhir pekan seperti ini.

Musium Bank Mandiri (Kiri) dan Terowongan Beos (warna hijau) di Kota

Musium Bank Mandiri (Kiri) dan Terowongan Beos (warna hijau) di Kota

Menjelajah ke Musium Bank Mandiri tidak dipungut bayaran, tidak tahu karena memang gratis atau karena teman-teman saya membawa kartu Mahasiswa sehingga dibebaskan dari uang masuk😀 Pokoknya mantap lah ya. Di Musium ini isinya lebih menceritakan sejarah perbankan di Indonesia, mulai dari alat-alat yang digunakan sampai ada ilustrasi kegiatan bangsa ‘kompeni’ (berupa patung-patung maket) di gudang penyimpanan uang bawah tanah. Karena saking ‘tua’nya bangunan ini, terkadang saya sampai merinding sendiri dibuatnya.

Puas mengacak-acak Musium Bank Mandiri kami pun melanjutkan perjalanan ke arah utara sambil menerka-nerka dimana tepatnya kawasan ‘Kota Tua’ seperti yang saya lihat sebelumnya di internet. Kami saat itu cuma berharap mudah-mudahan tidak terlalu jauh karena cuaca sedang panas-panasnya memayungi Jakarta siang itu.

Sumber : http://intanconstantia.blogspot.com 

View bangunan saat mulai masuk ke kawasan ‘Kota Tua’

Tak sampai 10 menit berjalan kami sudah disuguhkan pemandangan bangunan-bangunan kuno yang berjejer rapi dan jalanan yang tersusun oleh blok-blok batu, rasanya seperti tidak berada di negeri sendiri😀 Komunitas-komunitas banyak sekali bertebaran disini mulai dari komunitas anak muda yang doyan fotografi hingga komunitas bapak-bapak yang menggunakan sepeda onthel campur baur menjadi satu seakan tempat ini menjadi pusat yang mempersatukan anak bangsa, tidak pandang suku, agama, hobi, atau apapun, mungkin hal ini dapat terjadi karena sejarah yang mempersatukannya😀

Bangunan-bangunan yang dibangun di kawasan ‘Kota Tua’ ini dominan dipengaruhi oleh gaya arsitektur Belanda atau Eropa, Cina dan beberapa bangunan merupakan kombinasi arsitektur Belanda dan Cina. Menurut catatan sejarah, kawasan ini merupakan warisan penjajahan Belanda yang dikenal sebagai Batavia pada abad ke-17 dan bangunan di kawasan ini dibangun semirip mungkin dengan bangunan Belanda untuk mengobati rasa rindu para orang Belanda yang sedang menjajah di Batavia.

museum fatahillah kota-tua-jakarta

Museum Fatahillah dan lapangan utama yang sering dijadikan tempat berkumpul berbagai komunitas

Kawasan ‘Kota Tua’ juga dikelilingi oleh museum-museum bersejarah antara lain Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Museum Fatahilah (http://www.museumsejarahjakarta.com). Gaya arsitekturnya mirip dengan Istana Dam di Amsterdam, Belanda. Di dalamnya kita bisa menyaksikan ruang pengadilan dan ruang-ruang bawah tanah yang dulu pernah dipakai sebagai penjara.

Tak jauh dari Museum Fatahilah ada juga Museum Wayang (http://www.museumwayang.com). Museum ini memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri juga ada juga disini.

Yang terakhir adalah Museum Seni Rupa dan Keramik (http://museumsenirupa.com) Museum ini memiliki  sekitar 490 koleksi seni rupa, terdiri dari koleksi lukisan dan patung. Juga 8.500 koleksi keramik yang berasal dari dalam dan luar negeri.

'Kota Tua' Jakarta Lapangan Utama 'Kota Tua'

Semua Museum yang berada dikawasan ini memiliki nafas kuno yang akan menghipnotis kita seakan membuat kembali ke masa lampau.

Selain dijadikan tempat wisata sejarah dan berkumpulnya komunitas, kawasan ini juga dipadati oleh orang-orang yang berekreasi bersama keluarga maupun pasangannya. Kawasan ini juga menjadi pusat ekonomi bagi warga sekitar yang mencari nafkah dengan menyewakan sepeda onthel yang dapat digunakan oleh pengunjung, serta ada juga warga yang berjualan makanan ataupun minuman rigan pelepas dahaga untuk para pengunjung yang kelelahan setelah mengeksplorasi kawasan ini.

‘Bermain-main’ dikawasan ini menurut saya sangat recomended karena bisa menghilangkan penat dengan  hamparan bangunan-bangunan kunonya yang eksotis seperti layaknya tidak sedang berada di negeri sendiri lho (kecuali sampah-sampahnya😀 haha)

Yang juga tidak kalah penting adalah memberikan pembelajaran yang baik akan sejarah bangsa kita dan membuat kita bangga akan negeri ini sehingga kita bersama-sama dapat menjaga serta melestarikan ‘keberagaman’ warisan sejarah ini yang mempersatukan semua elemen masyarakat di suatu tempat yang kita kenal dengan nama ‘Kota Tua’ Jakarta.

Categories: Cerita Lepas | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: