Menyebrang di Jalan Raya Margonda ‘Bukan hanya soal waktu, tapi ini soal nyali !!!’ – Lanjutan

Cerita Sebelumnya :  Bagian Pertama

Cerita Sebelumnya…

Keluar dari mini market saya pun kembali ke medan perang, tetapi strategi saya kali ini adalah dengan mencoba melintasi jalan melalui zebra cross dengan harapan pengguna kendaraan akan lebih mengurangi kecepatannya saat melihat tanda khusus untuk penyebrang jalan tersebut. sekali lagi waktu yang ditunggu tidak kunjung datang, sebagai warga negara yang baik (saat itu :D) saya berusaha bersabar dan menunggu kesempatan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.55 pagi dan kesabaran saya pun habis ditelan gemuruh kendaraan dan debu-debu yang berterbangan (halagh..) akhirnya saya memutuskan bahwa ini adalah soal nyali… kita lihat siapakah pemenang sebenarnya dijalan ini, Pejalan kaki atau kendaraan bermotor yang mengesalkan itu… jreng..jreng…

Jalan Margonda dan Strategi Garis Keras

Tangan saya pun mulai diangkat keatas memperlihatkan telapak tangan ke arah kendaraan yang lewat sebagai tanda ‘STOP’ kepada mereka bahwa saya akan melalui jalan ini sebentar dan zebra cross sebagai saksinya😀 hehe… Percobaan pertama gagal total, hanya sebagian kecil kendaraan yang memelankan laju kendaraannya dan akhirnya saya terhempas kembali kebelakang. Percobaan berikutnya kembali gagal dengan permasalahan yang sama. Percobaan ketiga saya sudah hilang kesabaran, saya angkat tinggi-tinggi tangan keatas dengan menggunakan gaya Hitler (tanpa kumis ala Jojon tentunya :D) melalui jalan dengan percaya diri (hanya beberapa detik) hingga tepat di tengah jalan kendaraan yang bernama ‘motor’ tidak mau melambatkan kecepatannya malah mencoba menghindari berbelok beberapa meter dengan maksud melalui jalan di belakang saya dan saya pun terus melaju secara perlahan untuk menghindari gerakan yang tidak diinginkan.

Berdasarkan pengalaman saya, kemungkinan besar seseorang penyebrang jalan ditabrak adalah keragu-raguan mereka dalam melintasi jalan sehingga membingungkan pengguna kendaraan terutama ‘motor’ untuk memprediksi apakah penyebrang jalan akan terus ke melaju kedepan atau malah mundur ke belakang, yaahh… seperti yang kita ketahui bersama apabila ada penyebrang jalan idealnya kendaraan akan berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan mereka lewat tapi tidak di negeri ‘JABODETABEK’ ini pengguna kendaraan akan melihat celah mana mereka dapat lewat sehingga tidak perlu memberhentikan kendaraannya sedikitpun😦. Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi volume kendaraan yang padat dengan tidak disediakannya fasilitas penyebrangan jalan yang memadai membuat urusan ‘Jalan’ ini menjadi begitu carut-marut (ribet pokoknya lah –red🙂 )

Ilustrasi: Kepadatan Lalu-lintas Jalan Raya Margonda

Oke kembali ke cerita, jadi setelah kendaraan ‘motor’ pertama lewat ke belakang saya kemudian datang kendaraan ‘motor’ berikutnya dengan kecepatan tinggi dan sepertinya kendaraan kedua ini berada dibelakang kendaraan pertama tadi sehingga terlihat cukup kaget saat kendaraan pertama bermanuver ternyata di depannya ada saya yang sedang mencoba menyebrang jalan. Sehingga kendaraan ‘motor’ kedua ini mencoba menghindari saya dengan lewat tepat beberapa centi didepan saya, dengan catatan saya sudah mundur satu langkah. Artinya kendaraan kedua ini sama sekali tidak memelankan kecepatannya malahan hanya bergeser sedikit mencoba melewati depan saya. Alhamdulillah masih diberikan kesempatan, saya dengan sigap langsung mundur satu langkah menghindari kendaraan tersebut. Dengan perasaan sedikit shock (but life must go on bro..) dan dengan energi tersisa yang masih saya miliki. Langsung saja saya langkahkan kaki saya secara perlahan tapi pasti mengakhiri ‘tragedi’ penyebrangan jalan yang menakutkan hingga akhirnya sampai ke seberang jalan. Hingga saat ini pun saya masih ‘trauma’ apabila harus melintasi jalan raya Margonda, walaupun pada kenyataannya saya beberapa kali (kalau terdesak :D) masih menyebrangi jalan tersebut.

Beberapa pertanyaan memadati hati dan sanubari saya sejak saat itu. Pertanyaanya apakah saya sebagai penyebrang jalan melakukan kesalahan? Atau pengguna jalan yang tidak memiliki aturan dalam berkendara? Atau pemerintah yang tidak mau peduli dengan permasalahan ini?… Yah, sebagai masyarakat biasa saya hanya bisa menyampaikan cerita lewat tulisan usang ini.

Sebagai catatan, berdasarkan pengamatan saya sejak kejadian itu ternyata tidak hanya saya saja yang pernah mengalami kesulitan mengenai hal ini tetapi masih banyak (hmm…tidak tau angka pastinya karena tidak melakukan survey secara langsung, hanya pengamatan biasa sebagai penyebrang jalan) warga sekitar dan mahasiswa yang kesulitan dalam menyebrang di sepanjang jalan Margonda. Menurut pendapat saya, sebagai jalan utama yang dipadati oleh jumlah orang yang cukup banyak, jalan ini semestinya dilengkapi dengan fasilitas penyebrangan jalan yang cukup dan memadai. Saya sebagai warga Negara dan penyebrang jalan yang baik😀 hanya bisa berharap kita tidak menunggu sampai adanya jatuh korban hanya untuk menyadari hal ini.

-Penyebrang Jalan yang baik dan tidak sombong-

Categories: Cerita Lepas | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: