Taman Menteng ‘Oase Ditengah Rimbunnya Pencakar Langit Ibukota’

Lahir dan menjalani masa kecil di perkampungan kecil segitiga emas ibukota, tepatnya di kawasan menteng atas, Jakarta selatan, membuat saia mengenal beberapa kawasan menarik yang ada disana. Mulai dari Jl. HR. Rasuna Said, kuningan, sampai kawasan cassablanca cukup hatam dalam ingatan, lumayan lah tidak memalukan apabila ada orang yang bertanya sekitar daerah situ walaupun tidak seluruhnya diingat, maklum perkembangan kota Jakarta yang begitu pesat membuat saia terkadang kaget dengan perubahan drastis yang terjadi disana. Mulai dari tanah pekuburan yang berubah jadi rimbunan apartemen mewah sampai pasar tradisional yang mulai berubah menjadi tertata rapi dan modern, walaupun konon kabarnya tetap akan kena gusur🙂 yah itulah fenomena yang terjadi di segitiga emas Jakarta.

Pengetahuan yang cukup lumayan membuat seorang teman kantor yang berasal dari luar daerah meminta saia menjadi guide untuk sekedar berjalan-jalan mencari suasana baru di kawasan tersebut. Walaupun masih amatir tanpa pikir panjang saia langsung meng’iya’ kan saja ajakan tersebut, yah hitung-hitung me’refresh’ lagi ingatan nostalgia jaman dulu.

Berdasarkan prediksi kemungkinan kami hanya akan bermain-main disekitaran Jl. HR. Rasuna Said dengan spot-spot yang dikunjungi antara lain GOR soemantri brojonegoro, pasar festival, apartemen rasuna said, mesjid bakrie, dan yang terakhir adalah makan bakso tenis di gang sempit kampung belakang apartemen (menteng atas) sepertinya kesemuanya itu sudah cukup menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mengeksplorasinya maklum saja rencananya saia akan ajak ‘jalan terus sampai gempor’😀 hehehe.

Sabtu siang selepas dzuhur kami pun janjian bertemu di halte busway GOR Soemantri di depan Pasar Festival, sesuai rencana kami bertemu disana dan kemudian langsung saja dengan antusias tinggi kami mulai mengeksplorasi semua spot-spot yang sudah direncanakan sebelumnya, walaupun cuaca beberapa kali berubah-ubah (kadang terik kadang ‘eh hujan gerimis aje…’) tidak menyurutkan langkah kami sedikitpun untuk ‘mengacak-acak’ daerah tersebut.

Tidak terasa seluruh spot-spot yang direncanakan sudah semuanya ditelusuri dan ternyata lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Hmm… apa lagi ya yang bisa dieksplorasi, kami pun mulai kebingungan memikirkan spot berikutnya yang dianggap menarik untuk ditelusuri karena hari masih terbilang sore dan sangat disayangkan apabila kami langsung pulang, terlebih lagi sepertinya sobat satu ini masih terlihat belum puas dengan perjalanan ini. Strategi ‘jalan sampai gempor’ pun gagal total karena masih belum terlihat tanda-tanda kelelahan yang amat sangat dari raut wajahnya.

Ditengah ketidakpastian tujuan berikutnya tiba-tiba saja tercetus untuk menuju ke taman menteng. Hmm…. Nama tersebut cukup terasa familiar didengar sepertinya, berfikir sejenak sambil sesekali ormed (orientasi medan-red) untuk menentukan posisi pastinya berada di arah mana supaya tidak terlalu kelihatan ‘cengo’ nya😀. Dengan gaya ‘cool’ langsung action “oke kita naik P20 kearah senen, santai aja senyum aja”, beberapa saat kemudian Kopaja yang dimaksud datang dengan perlahan menuju ke arah kami dan dengan sigap kami pun langsung memberhentikan kemudian menaikinya menuju ke TKP.

Lima menit berlalu dan perjalanan pun terhenti di perempatan Jl. HOS Cokroaminoto karena disebelah barat jalan sudah terlihat jelas sebuah taman yang asri dan dikelilingi oleh pepohonan rindang, sangat eksotis dan indah untuk ukuran sebuah taman kota atau mungkin memang seperti itu lah seharusnya standar sebuah taman kota? Yah apapun itu menurut saia taman menteng memang lebih baik daripada taman-taman lain yang pernah saia lihat sebelumnya.

  

Baru melewati pekarangannya kami sudah disambut oleh sebuah kolam air mancur yang mengalir tenang, sesekali terlihat burung-burung gereja mampir kesana mungkin untuk sekedar melepas lelah setelah beraktivitas seharian. Semakin ke barat kami disuguhi oleh gugusan bangunan kaca dengan bentuk yang tidak biasa, kami pun kurang begitu mengerti fungsi sebenarnya dari bagunan tersebut akan tetapi dari segi fisik patut diacungi jempol karena desainnya yang simple dan modern tetapi tidak mengurangi keindahan dan fungsi dari taman itu sendiri.

 

View bangunan kaca dilihat dari depan

Semakin masuk ke tengah taman kami semakin takjub dengan susunan jalan blok yang berjejer rapi, mungkin lebih cocok disebut dengan plasa, kemudian jajaran bangku-bangku dan lampu taman yang tersusun rapi semakin memanjakan setiap mata memandang. Pohon-pohon yang tumbuh saat itu masih belum terlalu tinggi dan sepertinya masih baru beberapa minggu ditanam disana, yah pastinya akan terasa sangat panas apabila mengunjungi taman ini pada siang hari. Untung saja cuaca sore itu cukup bersahabat walaupun agak sedikit mendung. Semakin ke tengah kami menemukan lagi sebuah kolam air mancur tetapi dengan ukuran yang jauh lebih besar, kemudian taman ini dikelilingi oleh beberapa lapangan ukuran sedang (seukuran lapangan basket) yang biasanya digunakan warga sekitar untuk berolahraga, seperti untuk bermain bola, basket, ataupun olahraga lain seperti bersepeda.

Keindahan taman menteng semakin terlihat jelas saat kami mencoba untuk melihat taman dari posisi yang lebih tinggi. Di bagian belakang taman terdapat bangunan tempat parkir yang cukup tinggi sekitar tiga sampai empat lantai sehingga bisa kami manfaatkan untuk mencoba melihat keindahan taman dari atas, dan benar saja dengan melihat dari ketinggian, taman menteng terlihat begitu asri dengan view gedung-gedung pencakar langit ibukota Jakarta.

Menghabisakan waktu di taman menteng benar-benar tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat disana mungkin kami terlalu takjub dan begitu menikmati sisa senja kami disana. Akhirnya kami memutuskan untuk segera beranjak karena tujuan berikutnya adalah menuju mesjid Istiqlal untuk sholat maghrib disana.

Baru beberapa langkah menuju gerbang taman tempat kami pertama kali masuk, saia melihat sebuah patung yang terbuat dari kuningan atau perunggu yang cukup bagus untuk dijadikan objek foto. Awalnya hanya sekedar mengabadikan momen saja sampai kami melihat bahwa ternyata patung tersebut ditujukan untuk mengenang masa kecil Presiden Amerika Barrack Obama yang konon katanya anak menteng juga. Wow… antara takjub campur heran, yah paling ujung-ujungnya kembali ke urusan politik😀 okelah yang pasti objeknya bagus dan tidak menggangu keindahan taman menteng itu sendiri. Setelah puas mengabadikan taman menteng kami pun beranjak meninggalkan segala keindahan taman tersebuat yang merupakan oase ditengah rimbunnya pencakar langit ibukota.

Categories: Cerita Lepas | Tags: , , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “Taman Menteng ‘Oase Ditengah Rimbunnya Pencakar Langit Ibukota’

  1. baru tau ternyata lo doyan nulis juga da😀, nice

  2. wah, om Heksa ternyata tulisannya bagus-bagus ^^

  3. woa, oh Heksa rupanya tidak rabunsenja, begitu sore masih bisa menikmati keindahan taman menteng. Trims ya, saya jg jadi ingat mengenai masa kecil saya. dulu juga sempat tinggal di daerah menteng atas. tapi klo tanya jalan ke saya, maaf, lupa. dulu sering juga main ke pasar festival kuningan melalui kuburan “kober” yang kini sudah menjadi kawasan apartemen dan gedung epicentrum.

    Wah, pokoknya dlu antara horor ama petualangan kalo mau jalan-jalan kesana. Rute seru buat jalan selain ke Kuningan, ya ke arah Pasaraya Manggarai. Atau sekedar lewat ke tempat temen2 sekolah dulu di kawasan Menteng. Aduuh, jadi kangen lagi. Terimakasih yaw.

  4. hehe.. iya mas Imran, sekarang dah banyak berubah. namanya aja segitiga emas Jakarta😀 pembangunan dimana-mana. btw, taman menteng recommended banget tuh buat ngilangin penat di Jakarta. Saya yang tadinya rabunsendja aja langsung sembuh. hahahaha.

    -enjoy-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: