Catatan Kaki Seorang Petualang Mimpi

Rasanya baru kemarin catatan ini ku tulis, dari sepenggal kisah lama yang telah usang dan menceritakan kisah ratapan seorang anak petualang mimpi dari balik tembok kamarnya yang rapuh. Bisa dibilang ini hanyalah mimpi biasa dari keinginan biasa dari seorang anak biasa dari keluarga yang biasa, yaitu mimpi disaat senja datang berkenan dipetang hari. Mimpi yang mengingatkan ku sendiri akan arti hidup yang lebih berharga dari sekedar bualan senda gurau belaka. Cerita dimana disaat yang lainnya terlelap dia terjaga, disaat yang lainnya terbuai dia tegar, disaat yang lainnya rapuh dia kokoh. Tapi dia hanyalah seorang anak biasa dari keluarga yang biasa, yang hanya bisa menjadi petualang mimpi dan terbangun di keesokan harinya, dan mimpi-mimpi itu hanya menjadi angan yang terbuai. Sampai suatu ketika mimpi itu terasa nyata dikehidupannya, bukan karena dia seorang anak biasa dari keluarga yang biasa, tetapi karena dia menjalani mimpi itu dengan setiap tetes keringat dan doanya. Tapi mengapa,,,, Dia hanyalah seorang anak biasa dari keluarga yang biasa?? Dia hanyalah seorang anak petualang mimpi dari balik tembok kamarnya yang rapuh.

Setiap hari aku memikirkan mimpi yang dia ukir saat senja di petang hari, setiap hari aku menantikan, setiap hari aku merasakan. Mungkin itu peluh tapi setidaknya aku cukup merasakan hangatnya di petang hari saat sinar senja jatuh dibalik bebatuan. Anak itu masih terus saja berpetualang dengan mimpinya, mengabaikan harinya yang penuh caci maki dan isak tangis. Setiap logika terus saja memandang rendah akan harinya, tapi anak itu terus bermimpi berharap petualangannya tidak berakhir dimalam ini dengan cacian mereka. Setiap langkah terus ia tempuh, setiap doa ia jadikan penyemangat, setiap hari ia jadikan rasa syukur kepada “Sang Raja” (Allah – red). Rasanya terlalu tangguh untuk seorang anak yang rapuh, yang berusaha untuk terus bermimpi walau telah jatuh hancur berkeping karena mimpinya. Tapi ia berusaha untuk tegar berdiri, terus berjalan di muka bumi untuk mengabaikan dunianya yang fana dan fatamorgana untuk melihat tanda-tanda kekuasaan “Sang Raja” yang telah dijanjikan, yaitu secercah cahaya dari mimpinya yang kelam, secercah harapan untuk terus berpetualang.

Mungkin memang dia hanya akan menjadi seorang anak petualang mimpi dikala senja, dan mungkin disaat senja itu telah usai dia hanya akan menjadi sepenggal kisah lama yang usang. Tetapi kisahnya akan menjadi pesan dalam setiap hangatnya senja yang kita rasakan, takkan usai sampai akhir dari semua petualangan berakhir. Aku hanya menceritakan sepenggal kisah lama yang telah usang dan menceritakan kisah ratapan seorang anak petualang mimpi dari balik tembok kamarnya yang rapuh.

– Hexa, 2010 –

Categories: Cerita Lepas | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: