Mencari Sebuah Kebebasan Orientasi – Gunung Joglok, Mandalawangi, Gunung Gedogan

Mencari sebuah kebebasan orientasi…

Ya, itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan Calon Anggota (caang) kali ini. Tidak terasa BKP’11 (Badan Khusus Pelantikan Mapala UI) sudah memasuki praktek perjalanan ke dua, dan para caang pun kembali ditantang untuk mengaplikasikan kemampuan dasar alam bebas yang sebelumnya telah diberikan oleh para senior Mapala (mentor) pada setiap akhir pekan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa), dalam rangka seleksi tahap pertama calon anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala UI).

Tantangan kali ini adalah praktek pertama dalam pengaplikasian navigasi alam bebas, dimana para caang akan diasah kemampuannya dalam hal navigasi dasar, seperti menentukan posisi koordinat, membaca peta, menentukan arah, menentukan ketinggian, menentukan jarak, membaca bentangan alam, serta yang tidak kalah serunya adalah menentukan jalur yang paling efektif untuk mencapai titik koordinat yang diberikan oleh para mentor. Area perjalanan (Karvak) kali ini berada disekitar perkebunan teh Gunung Mas, tepatnya di Gunung Joglok (1846 m), Mandalawangi (2040 m), dan Gunung Gedogan (1730 m), Jawa Barat.

kelengkapan peralatan dalam bernavigasi (dari kiri ke kanan) : Peta Rupa Bumi, Kompas Tembak, Protaktor

Hari-H (Jumat, 13 Mei 2011) dua jam sebelum perjalanan, rekan-rekan caang terlihat memadati lorong sempit didepan ruang caang, tepatnya berlokasi digedung utara lantai dua Pusgiwa. Senda gurau begitu memenuhi lorong, beberapa rekan yang ingin menyampaikan informasi sampai harus menarik urat leher dalam-dalam karena sangat riuhnya suasana saat itu untuk sekedar menunggu kepastian jam keberangkatan yang belum jelas rimbanya, karena beberapa hal birokrasi yang harus terpenuhi sebelum keberangkatan. Waktu pun berlalu hingga akhirnya kumandang adzan maghrib mengalun disepanjang lorong, mengingatkan rekan-rekan caang yang muslim untuk menjalankan kewajibannya ditengah ketidakpastian yang semakin berlarut-larut. Selepas maghrib mulai ada setitik kejelasan, rekan-rekan mulai dikumpulkan di aula Pusbintakwa dengan membawa carriernya masing-masing. kesiapan para caang diperiksa dengan seksama oleh para mentor dan kemudian sekitar pukul tujuh malam rombongan caang dibagi menjadi dua kelompok untuk naik ke tronton yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh penanggung jawab transportasi tim besar.

Perjalanan dari Universitas Indonesia, Depok, menuju ke base pertama yaitu didaerah Gunung Mas, Puncak, Bogor, membutuhkan waktu kurang lebih dua setengah jam perjalanan. Udara yang sejuk di kawasan Puncak, Bogor menghilangkan rasa lelah yang terasa, baik itu selama perjalanan menuju terminal daerah Gunung Mas maupun saat tracking menuju basecamp di areal perkebunan teh. Langit malam tidak bisa menyembunyikan pemandangan yang luar biasa asri disana, hamparan perkebunan teh, bias cahaya lampu rumah-rumah penduduk sekitar dan kilas bayangan gunung-gunung kokoh sangat memanjakan sejauh mata memandang. Setelah briefing sebentar dengan para mentor, tenda-tenda mulai didirikan diarea yang cukup lapang ditengah-tengah perkebunan teh Gunung Mas. Para caang beristirahat sekedar untuk bermalam saat itu saja karena keesokan harinya, tepatnya pukul tiga pagi para caang harus sudah mulai bergerak menuju flying camp di koordinat yang sudah ditentukan oleh para mentor.

Flying Camp, awal dari pemahaman dasar orientasi

Sebelum para mentor dan senior Mapala yang lain benar-benar mempercayakan rekan-rekan caang untuk mengaplikasikan ilmu navigasi yang sudah pernah diberikan di kampus, para caang sekali lagi harus diuji daya analisisnya terhadap bentangan alam yang sesungguhnya dilapangan. Dan memang pada kenyataannya penerapan navigasi di medan yang sesungguhnya jauh lebih sulit dan membingungkan apabila dibandingkan dengan latihan di kampus yang notabene setidaknya para caang sudah megetahui objek-objek disana, karena di alam bebas kita tidak akan pernah tau objek apa yang ada dilapangan tanpa bantuan peta, daya analisis terhadap orientasi medan, dan tentunya pengalaman dilapangan itu sendiri. Pemahaman inilah yang dirasa penting oleh para mentor untuk diberikan ke rekan-rekan caang sampai setidaknya sudah memahami konsep dasar navigasi alam bebas.

Waktu menunjukkan sekitar pukul lima pagi di flying camp, setelah pagi-pagi buta sekitar pukul tiga pagi tim besar beranjak dari camp bayangan di perkebunan teh Gunung Mas menuju ke titik koordinat tempat flying camp ditentukan. Disana rekan-rekan caang akan transit sementara untuk mendapatkan pembekalan oleh mentor-mentor dan senior Mapala yang sudah berpengalaman dalam navigasi alam bebas. Tidak terasa cahaya mentari begitu bergegas muncul di pagi itu, para caang yang muslim menjalankan sholat subuh secara bergantian kemudian dilanjutkan dengan makan pagi di kelompok masing-masing. sekitar pukul tujuh pagi disaat udara terasa semakin hangat, para caang dikumpulkan untuk sekedar sharing knowledge dengan senior Mapala yang berpengalaman dalam navigasi alam bebas. Butuh waktu yang tidak sebentar bagi para senior untuk sharing pengetahuan yang mereka miliki, ini karena sebagian besar caang yang masih hijau dalam bernavigasi serta pengetahuan yang minim dalam membaca peta dan orientasi medan.


Hampir tiga jam para senior memberikan pengarahan dan sedikit simulasi mengenai navigasi sampai akhirnya setelah dirasa pengetahuan dasar para caang dirasakan cukup dalam menentukan posisi koordinat dan orientasi medan, maka kemudian para caang mulai diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi ilmu yang telah mereka dapat menuju titik target perjalanan berikutnya. Kelompok caang dibagi menjadi dua kelompok besar, dimana setiap kelompok akan melalui jalur yang berbeda hingga akhirnya akan bertemu kembali di Mandalawangi. Kelompok pertama akan melewati rute Joglok (Barat Daya) dan kelompok kedua akan melewati rute Gedogan (Tenggara). Kedua rute tersebut membentuk seperti tapal kuda dimana kelompok tersebut akan berangkat dari utara menuju Mandalawangi di selatan.

Jalur Joglok, pendakian tanpa batas

Mungkin sepertinya agak berlebihan, akan tetapi itulah yang terjadi di jalur ini. Jalur yang sepertinya menyenangkan apabila dilihat dari peta karena hanya akan melewati punggungan-punggungan, akan tetapi kenyataannya dilapangan berbalik seratus delapan puluh derajat. Jalur Joglok benar-benar jalur pendakian, karena dari awal start dari flying camp hingga mencapai puncak Joglok benar-benar isinya adalah pendakian yang cukup sulit. Kondisi yang menyulitkan ini antara lain, kesulitan dalam melakukan orientasi medan karena tipe pepohonan yang lebat sehingga sangat sulit untuk melihat objek sekitar, hal ini juga menyulitkan dalam menentukan posisi tim Joglok dalam peta (Resection). Kondisi lain yang menyulitkan adalah medan yang berat, dimana kondisi tanah yang sangat gembur dan licin disertai dengan kemiringan track yang curam di sepanjang punggungan membuat beberapa rekan caang hingga harus jatuh bangun untuk melewatinya, sehingga rasa lelah menjadi kawan baik dalam perjalanan ini.

Jalur Joglok memakan waktu hingga kurang lebih lima jam perjalanan hingga ke puncak (1846 m). Jam masih menunjukkan pukul lima sore di puncak Joglok, dan para mentor pun tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Mandalawangi. Wajah lelah para caang tidak bisa disembunyikan lagi, sempat tadinya para caang berfikir untuk melanjutkan perjalanan karena menuju Mandalawangi tinggal sebentar lagi, kurang lebih dua jam perjalanan. Setelah berunding dengan sesama caang selama beberapa waktu, akhirnya diambil kesepakatan bahwa kekuatan suatu tim bukanlah terletak pada anggota terkuatnya, melainkan terletak pada anggota terlemahnya karena sekuat apapun suatu tim tidak akan lebih cepat dan lebih kuat apabila ada satu atau beberapa anggotanya yang lemah dan sering mengalami permasalahan. Untuk itu caang tim Joglok berkesimpulan untuk bermalam di puncak Joglok untuk kemudian melanjutkan perjalanan di keesokan harinya. keputusan itu akhirnya dirundingkan dengan para mentor dan senior Mapala, dan mereka pun akhirnya setuju karena esensi dari pembelajaran navigasi ini bukanlah untuk membuktikan siapa yang lebih dahulu sampai di tujuan akhir, akan tetapi apakah para caang sudah mampu untuk memahami navigasi secara seutuhnya, dan percuma saja apabila nantinya para caang akhirnya kemalaman saat perjalanan ke Mandalawangi karena navigasi alam bebas akan lebih efektif untuk dijalankan saat siang hari disaat semua objek yang menjadi patokan dalam bernavigasi dapat terlihat dengan cukup jelas.

Malam pun akhirnya datang dan hujan mengalir dengan derasnya. Para caang dan mentor pun bersyukur untuk tidak melanjutkan perjalanan karena medan yang akan dilalui akan lebih berat apabila dibandingkan dengan jalur menuju puncak Joglok. Sekali lagi malam itu diisi dengan sharing knowledge antara mentor dan para caang atas perjalanan jalur Joglok ini.

Bermalam di puncak joglok tidak akan pernah terlupakan, suhu yang dingin ditambah hujan yang mengalir semalaman sangat membekukan hingga ke ubun-ubun. Beberapa caang terlihat mengalami kedinginan tingkat tinggi saat bermalam di puncak Joglok, untunglah Tuhan masih melindungi tim Joglok secara keseluruhan hingga pagi menjelang keesokan harinya.

Mandalawangi, jalur adrenalin tingkat tinggi

Pukul tiga pagi di puncak Joglok para caang mulai terlihat beraktivitas, bersiap-siap untuk sarapan dan packing kembali perlengkapan dan peralatan yang akan dibawa menuju Mandalawangi. Mandalawangi disini bukanlah lembah Mandalawangi di kaki gunung Pangarango, melainkan daerah Mandalawangi atau orang setempat biasa menyebutnya dengan nama Geger Bentang. Dalam perjalanan ini tim Joglok sudah sangat bersemangat karena energy yang sudah di charge semalaman ditambah medan yang akan dilalui cukup banyak turunan apabila dilihat dari kontur di peta. Para caang cukup bersemangat pagi itu, terlebih lagi karena cuaca yang cerah dan bersahabat yang membantu caang untuk melakukan orientasi medan dengan cukup baik karena objek-objek yang akan dijadikan patokan, antara lain gunung Pangarango dan Gedogan cukup terlihat dengan jelas.

Perjalanan menuju Mandalawangi diawali dengan kecepatan tinggi karena jalur yang menurun dengan sempurna dan beban carrier yang semakin berkurang memudahkan pergerakan para caang untuk sesegera mungkin menuju Mandalawangi, dan setelah dilakukan estimasi jarak mendatar dari peta, ternyata jarak tempuh ke sana tidak terlalu jauh dari puncak Joglok. Akan tetapi yang jadi permasalahan adalah kilometer terakhir untuk menuju puncak Mandalawangi atau Geger Bentang akan melalui medan yang sulit, dimana para caang harus melewati jalur dengan ketinggian yang ekstrim, bahkan beberapa kali harus melompat untuk berpegangan dengan akar-akar pohon untuk dapat naik untuk melanjutkan perjalanan. Medan yang cenderung curam hampir saja membuat beberapa rekan caang menjadi korban. Jalur menuju Mandalawangi terbilang cukup singkat karena berhasil ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih dua jam, sehingga pada tengah hari tim Joglok sudah berhasil menaklukkan Mandalawangi,

Gedogan dan pintu keluar yang menyesatkan

Melepas lelah di puncak Mandalawangi setelah perjalanan ekstrim dengan merayap secara vertikal akhirnya terbayarkan juga. Rasa lelah seakan sirna walaupun pemandangan gunung Pangarango tidak terlihat jelas karena tertutupi oleh kabut tebal siang itu. Hari itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi tim Joglok yang berhasil pertama kali sampai untuk menaklukkan Mandalawangi, saat itu tim Gedogan masih dalam perjalanan dan kemungkinan satu jam lagi baru bisa bergabung dengan tim Joglok di Mandalawangi.

Akhirnya setelah satu jam menunggu, kelompok pertama dari tim Gedogan sampai dengan selamat di puncak Mandalawangi. Tim Joglok pun menyambutnya dengan hangat, walaupun mungkin agak sedikit berbau sindiran kepada tim Gedogan yang lebih lama sampai di Mandalawangi. Tak lama setelah tim Gedogan sampai, tim Joglok sudah mulai disiapkan kembali untuk memimpin jalur pulang, dimana jalan yang dipilih adalah melalui jalur Gedogan. Seperti halnya saat keberangkatan, kelompok tim joglok pun kembali dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Leader, middle, dan sweaper.

Tim leader pun dengan semangat melalui jalur dengan kecepatan tinggi, mungkin karena ingin cepat-cepat sampai dan beristirahat di exit point yang telah ditentukan oleh mentor. Di beberapa titik lokasi tim leader Joglok mulai melakukan resection untuk mengetahui lokasi saat ini dan menentukan seberapa jauh lagi jarak posisi saat ini dengan exit point yang dituju. Dengan menggunakan peta dengan skala 1 : 50.000 berarti dapat diketahui bahwa jarak antar kontur di peta memiliki selisih ketinggian sebesar 25 meter. Kondisi ini yang sempat terabaikan oleh caang tim leader karena perbukitan-perbukitan yang tidak sampai 25 meter dianggap sudah mewakili kontur, sehingga tim leader disesatkan oleh estimasi yang salah. Jadi posisi yang diperkirakan saat itu oleh tim leader terlalu jauh dari posisi yang sebenarnya. Sehingga sempat terjadi perdebatan antara caang dengan mentor mengenai jalur yang dipilih. Tim leader pun sempat melakukan insiden dengan salah memilih jalur, sehingga melalui jalur yang tidak mungkin dapat dilalui. Untung saja cepat disadari dan kembali ke jalur utama untuk melakukan resection ulang posisi yang tepat saat itu.

Setelah beberapa kali berjalan dengan ketidakpastian akhirnya tim leader Joglok berhasil sampai dengan selamat di exit point walaupun sampai tidak dengan kemampuan sendiri, karena beberapa kali dibantu oleh mentor akan tetapi cukup menyenangkan sekaligus menjadi pengalaman berharga untuk perjalanan berikutnya.

View Gunung Pangarango dibalik Gunung Joglok dan Mandalawangi

Berjalan tanpa sebuah kepastian dan belajar menentukan arah dalam berkegiatan di alam bebas merupakan pengalaman berharga yang tidak akan mungkin bisa terlupakan. Suatu kebanggan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dari para mentor dan senior Mapala yang berpengalaman dalam bernavigasi, karena dengan mengetahui arah dan tujuan maka suatu pendakian akan bisa dilakukan dengan aman, tepat sasaran, dan berjalan secara efektif dan juga efisien.


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: